jump to navigation

Kutitipkan Surat Ini Untukmu 7 Desember 2009

Posted by abuumar44 in Berbakti Kepada Orang Tua, Nasehat.
Tags: ,
trackback

Assalamu’alaikum,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkanIbu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikankepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, keluarga dan parasahabatnya. Amin…
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelahberpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena,sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kalimenulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dansetiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadilaki- laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkaupantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas inilalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatidan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dansemua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasagembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dariperubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri,makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidakmengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersamaberjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku!
Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketikafajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan matakubarang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasatakut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihatkematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkaukeluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu,air mata kebahagiaan.

Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semuasakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah denganbertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman,aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu denganhatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripatihidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demikebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu…itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulandan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmuyang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti,dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akanselalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimuhari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmuyang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan kekanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu.

Saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir,entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangistelah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkanpasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisahdenganku. Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat.Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dankesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi olehkegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu,sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolamyang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidakmengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu.

Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapipenantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanyauntuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu akumanyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali teleponberdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suarakendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akantetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancurberkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihandari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diridan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagihkepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagaisahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agarIbu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.Dan Ibu memohonkepadamu, Nak Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendakmemandang wajahmu!! Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu,salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgahke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempatsampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksaengkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalupergi. Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku,karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit…

Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu…
Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yangtidak pernah berhenti. Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja olehseseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!?

Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak!
Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’alatelah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikanpula? !” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudahbegitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia denganhidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak,engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil darikeletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yangtelah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?
Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu? Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagaibudak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu .Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukkuwahai anakku! Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku dibawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikitkasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini?Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidakmenginginkan yang lain. Wahai anakku! Hatiku teriris, air matakumengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang seringmengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yanglemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini,ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaiankedukaan! ? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkanair matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka dihatinya ..hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belatidurhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telahberhasil pula memutuskan tali silaturrahim? !

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilahjembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis,pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sanadengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits:

“Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, makasia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkautelah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dansurga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalatberjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah. Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yangterlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitubahwa Nabi yang mulia shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu `anhu berkata: Aku bertanya kepadaRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apayang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepadakedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliaumenjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya akubertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun `alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untukmemerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkaumendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dananak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawapulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalamusahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubukreotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emasyang besar.

Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelahgubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencaripahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa didekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapatmenghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoanAllah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwajangan- jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu `alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Merugilah seseorang, merugilah seseorang,merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketikatua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidakadukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telahmembumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidakada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantunghatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langitsedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmumerana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaanhidupku. Bangunlah Nak!
Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkauakan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akanmemetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkautulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itupula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!!
Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlahkesedihanny a, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yangtelah lapuk. Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu!Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu
:::::::::::: ::::::::: ::::::::::::::::: ::::::::: :::::::::::::
Artikel Ini Disalin dari Buku Kutitipkan Surat Ini Untukmu
karya Al-Fadhil Al-Ustadz Armen Halim Naro, Lc.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.