jump to navigation

Tanda Cinta Kepada Allah 7 Desember 2009

Posted by abuumar44 in Cinta.
Tags:
add a comment

CINTA bisa diucapkan oleh siapa pun sebagai pengakuan. Namun jangan terpedaya dengan bujuk rayu iblis dan tipu muslihat nafsu yang mengaku mencintai Allah. Karena semua pengakuan itu perlu diuji dengan serangkaian tanda cinta dan ditunjukkan dengan bukti nyata.

Cinta Adalah pohon yang baik/subur, akarnya menghunjam ke bumi dan cabangnya menjulang ke angkasa. Buahnya tampak di hati, ucapan dan perbuatan. Seperti asap sebagai bukti adanya api, dan buah sebagai bukti adanya pohon, cinta juga mesti termanifestasikan dalam serangkaian tanda. Tanda-tanda cinta itu sangat banyak, di antaranya sebagai berikut:

1. MENGINGINKAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH DI SORGA

Hati yang mencintai Sang Kekasih pasti ingin menyaksikan dan berjumpa dengannya.

Jika sudah dipahami bahwa perjumpaan dengan Allah tidak akan terwujud kecuali dengan meninggalkan dunia melalui kematian, maka seharusnya hamba mencintai kematian dengan tanpa berusaha melarikan diri darinya. Bagi seorang pencinta, pergi dari kampung halamannya menuju Kekasihnya untuk menikmati perjumpaan dengannya tidak akan terasa berat. Kematian adalah kunci perjumpaan dan pintu gerbang untuk menyaksikan-Nya.

Dari Ubadah bin Shamit disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa yang menginginkan pertemuan dengan Allah maka Allah pun menginginkan pertemuan dengannya. Barangsiapa yang enggan menginginkan pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak suka bertemu dengannya.”

Keinginan untuk berjumpa dengan Allah ini tidak identik dengan menginginkan kematian. Karena di samping ada yang menginginkan kematian, orang-orang mukmin atau generasi salaf pun ada yang tidak menyukai kematian dan pertemuan dengan Allah sesudah kematian. Namun ketidaksukaan itu dipicu oleh lemahnya cinta, atau adanya cinta lain, atau karena dosa yang dirasa masih banyak hingga ia lebih suka tinggal di dunia untuk bertobat dan memperbaiki diri.

Ada pula yang merasa tingkatan cintanya masih rendah. Baginya, tidak baik segera bertemu kematian sebelum benar-benar siap berjumpa Allah. Ini ibarat seorang yang terlambat menemui kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri demi satu pertemuan yang menyenangkan, hati yang terfokus dan ringan beban. Ketidaksukaan karena alasan ini tidak mengurangi kesempurnaan cinta. Tanda akan hal ini diperlihatkan melalui kesugguhan beramal dan perhatian yang besar dalam persiapan. Bila tidak demikian, maka ia akan tegolong orang yang tenggelam ke dalam dunia.

Ketahuilah, sesungguhnya perpisahan dengan sesuatu yang dicintai terasa amat berat. Jika Anda telah mencintai dunia, pasti Anda membenci pertemuan dengan Allah. Meningggalkan dunia dan menemui kematian menjadi berat, karena hal itu berarti berpisah dengan yang dicintai. Maka selayaknya cinta diberikan kepada sesuatu yang tidak akan pernah meninggalkan Anda yaitu Allah. Janganlah Anda mencintai dunia, yang pasti meninggalkan Anda.

Seorang pencinta sejati selalu mengingat kematian. Karena waktu itu merupakan saat-saat bertemu Kekasih, sedang ia tak pernah lupa akan waktu pertemuannya dengan Kekasihnya. Orang ini biasanya merasa terlalu lama menunggu datangnya kematian. Ia mencintai kematian agar segera terbebas dari negeri para pelaku maksiat, seraya berpindah ke sisi Rabb semesta alam.

2. MERASA NIKMAT DALAM BERKHALWAT, BERMUNAJAT KEPADA ALLAH DAN MEMBACA AL-QUR’AN

Hal ini mendorong orang yang mencintai Allah untuk memperbanyak tahajjud, memanfatkan keheningan malam dan kejernihan waktu untuk memutuskan segala hambatan. Karena derajat cinta paling rendah adalah merasa senang dengan Kekasih dan merasa nikmat dalam bermunajat kepada-Nya.

Siapa yang merasakan tidur dan kesibukkan bicara di malam hari lebih enak dibanding munajat kepada Allah, maka pengakuan cintanya tak bisa dianggap benar. Seorang pencinta pasti merasa senang mengabdi dan melakukan ketaatan kepada yang dicintainya. Maka kuat cintanya, semakin sempurna nikmat ketaatan dan pengabdiannya.

Besar-kecilnya kenikmatan yang dirasakan berbanding lurus dengan kuat lemahnya rasa cinta. Tiap kali cinta dan rindu pada kekasih itu menggebu, maka kenikmatan untuk sampai kepada-Nya pun semakin sempurna.

Bila besarnya nikmat seseorang yang dahaga ketika minum air dingin sangat tergantung pada rasa hausnya, demikian pula orang yang lapar, maka hal yang sama juga berlaku pada orang yang mencintai sesuatu. Kenikmatan dirinya tergantung kadar cintanya terhadap sesuatu tersebut.

Itulah sebabnya Rasulullah saw. bersabda:

“Dijadikan kesenanganku dalam shalat…”

Siapa yang telah merasakan nikmat sesuatu, pasti merasa enggan berpisah darinya, apalagi meninggalkannya. Karena kesenangan, kenikmatan dan kebaikan hidup seorang hamba terletak padanya.

Siapa yang mendapatkan kenikmatan dengan shalat di dunia, maka ia tidak hanya meraih kenikmatan lainnya di dunia, tapi juga akan mendapatkan kenikmatan berdekatan dengan Allah di akhirat. Siapa yang telah merasakan nikmat bersama Allah, maka segalanya akan membuat dirinya bahagia. Sedang bagi orang yang belum merasakan kenikmatan ini, maka jiwanya akan tersayat oleh penyesalan terhadap dunia.

Kenikmatan, kesenangan dan kelezatan seorang pencinta terletak pada kepatuhan dirinya terhadap Sang Kekasih. Berbeda dengan orang yang taat secara terpaksa yang memikul beban pengabdian dengan berat hati, yang jika tidak dipaksa dengan keras niscaya ia tidak akan menaatinya. Kepatuhannya hanya didasari oleh ancaman dan tangan besi pihak lain. Berbeda dengan pencinta sejati yang merasakan ketaatan pada Kekasihnya sebagai nutrisi, kesenangan, kelezatan dan kegembiraan, bukan pemaksaan dan penghinaan.

Singkatnya, apa pun pengabdian seorang pencinta pada Kekasihnya akan menjadi hal yang paling menggembirakan dan menyenangkannya, bukan suatu beban yang memberatkan. Baginya, kepatuhan itu menjadi nutrisi hati, kegembiraan, kesenangan, dan kenikmatan jiwanya. Da melakukannya lebih nikmat dibanding makan, minum dan kesenangan jasmani lainnya.

Kelezatan ruhani lebih kuat dan lebih sempurna ketimbang kelezatan jasmani. Karena itu ia tidak pernah merasa berat melafalkan wirid-wirid ibadah dan sekali-kali tidak perah menganggapnya sebagai beban. Bagi seorang pencinta, tidak ada yang lebih nikmat selain mengabdi dan menaati Kekasihnya.

Kesenangan dan kenikmatan dalam pengabdian ini hanya bisa dicapai lebih dulu dengan kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai dan melelahkan. Jika ia bisa bersabar dan benar dalam kesabarannya, maka hal ini akan mengantarkan dirinya pada kelezatan tersebut.

Para penempuh jalan ini senantiasa terancam oleh berbagai penyakit, kelesuan dan keterpurukan selagi belum sampai kepada keadaan ini. Namun ketika ia telah berhasil menggapainya, maka ia akan merasakan kenikmatan dalam perjalanannya dan meresapi kelezatan dalam mujahadahnya. Ia merasa tersiksa bila mengalami futur (kelesuan) dan terhenti dalam perjalanannya. Dan hal paling menakutkan hatinya adalah tersia-siakanya waktu dan terhentinya perjalanan. Tidak ada jalan menuju ke sana kecuali dengan cinta yang membara.

Untuk menakar iman dan cintanya kepada Allah, seorang hamba hendaknya menggunakan parameter tersebut. Artinya, ia harus memperhatikan, apakah ia bisa meneguk kenikmatan dalam mengabdi, atau justu merasa terpaksa melakukannya. Dan disertai rasa jemu dan malas pula? Ini merupakan batu ujian dari keimanan dan kecintaan hamba kepada Allah.

Jadi kesempurnaan cinta ditandai dengan kesyahduhan yang total dalam bermunajat kepada Kekasih senang dalam berkhalwat (ibadah dalam sunyi), dan sangat risih terhadap segala hal yang menganggu khalwatnya.

Bila rasa cinta dan kesyahduan itu dominan, maka munajat dan khalwat akan mengusir segala keresahan, bahkan rasa cinta dan kesyahduan itu akan memenuhi ruang hatinya.

3. SABAR TERHADAP HAL-HAL YANG TIDAK DISUKAI

Sabar adalah manzilah paling pasti dalam jalan cinta dan paling penting bagi para pencinta. Mereka paling memerlukan mazilah ini di antara manzilah-manzilah lainnya. Ia adalah manzilah yag paling dikenal dan paling nyata di jalan tauhid, hingga ia melebihi apa pun bagi seorang pencinta.

Jika ada yang bertanya: “Bagaimana ia amat memerlukannya, padahal hal ini bertolak belakang dengan sempurnanya cinta? Bukankah kesabaran menjadi penghalang untuk bertemu dengan yang dicintai?” Jawabnya, sabar justru merupakan bentuk paling indah dari jalan panjang ini.”

Melalui titik inilah diketahui kebenaran cinta, kemurnian dan kepalsuannya. Karena hanya dengan sabar menghadapi hal-hal yang tidak disukai dalam memenuhi kehendak Kekasihlah, sebuah cinta dapat diuji ketulusannya.

Dari sinilah terbukti cinta kebanyakan orang adalah dusta, di mana mereka mengaku cinta kepada Allah, namun mereka berubah halus saat diuji dengan hal-hal yang tidak disukainya. Dan hanya yang sabar yang mampu bertahan. Bila tidak ada kesulitan yang ditanggung dan tidak ada penderitaan yang dirasakan, maka kebenaran cinta tidak bisa dibuktikan. Maka hamba yang paling besar cintanyalah, yang paling tinggi kesabarannya.

Karena itu, secara khusus Allah memberikan sifat sabar kepada para Nabi, wali, dan kekasih-Nya—sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat berikut.

Tentang Nabi Ayyub, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami dapati ia (Ayyub) sebagai seorang yang sabar” (Shad [38]: 44).

Pada ayat yang sama, Allah juga memujinya:

“Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Rabb-Nya)”

Allah juga memerintahkan Rasulullah saw., makhluk yang paling dicintai-Nya, agar bersabar terhadap hukum-Nya. Dengan kesabaran, semua musibah menjadi ringan. Firman-Nya:

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan/hukum Rabbmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami” (ath-Thur [52]: 48).

Dalam ayat lain, Alah juga berfirman:

“Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu berduka cita terhadapnya (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah bersama oarng-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan” (an-Nahl [16]: 127-128).

Allah juga memuji orang-orang yang sabar dengan pujian yang sebaik-baiknya, seperti dalam firman-Nya:

“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur” (Ai Imran [3]: 17).

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (al-Baqarah [2]: 177).

Perilaku sabar ini disediakan pahala yang tak terhingga yang berbeda dengan ganjaran amal lainnya, sebagaimana yang difirmankan dalam ayat-ayat berikut:

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (an-Nahl [16]: 96).

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (az-Zumar [39]: 10).

Selain itu, sabar juga disandingkan dengan maqam Islam, iman dan ihsan, serta disejajarkan dengan yakin, tawakal, amal, dan takwa.

Ayat berikut menjelaskan perihal sabar yang dipersandingkan dengan shalat:

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat” (al-Baqarah [2]: 45).

Dibarengi dengan amal shaleh:

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjaka amal-amal shaleh” (Hud [11]: 11).

Dengan takwa:

“Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan sabar…” (Yusuf [12]: 90).

Dengan syukur:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdekat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur” (Ibahim [14]: 5, Luqman [31]: 31. Asy-Syura [42]: 33).

Sabar juga berdampingan dengan kebenaran:

“Dan nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran” (al-Ashr [103]: 3).

Dengan rahmat/kasih sayang:

“Dan orang-orang yang saling menasehati untuk bersabar dan berkasih sayang” (al-Balad [90]: 17).

Yang mengiringi yakin:

“Ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” (as-Sajdah [32]: 24).

Bersama sifat sidq/benar:

“Laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar” (al-Ahzab [33]: 35).

Selain kesabaran dijadikan sebagai benih datangnya cinta, kebersamaan, pertolongan, dan balasan yang baik dari-Nya, Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang yang sabar adalah mereka yang bisa memetik manfaat dari ayat-ayat-Nya; bahwa kesabaran adalah suatu kebaikan bagi pelakunya, dan bahwa para malaikat mengucapkan salam kepada orang yang sabar di sorga, di mana salam itu diucapkan karena kesabaran mereka.

Semua ini menunjukkan bahwa sabar adalah tingkatan iman paling mulia. Orang yang paling utama dan istimewa di sisi Allah adalah mereka yang paling teguh memegang prinsip ini. Dan orang yang istimewa ini lebih memerlukan kesabaran ketimbang orang umum. Pencinta adalah orang paling sabar, dan lemahnya kesabaran terjadi lantaran lemahnya cinta.

4. MENGUTAMAKAN ALLAH ATAS SEGALA SESUATU

Siapa yang lebih mengutamakan sesuatu dari-Nya, berarti di dalam hatiya ada penyakit. Hal itu sama dengan perut yang mengutamakan makan tanah ketimbang roti. Perut seperti ini adalah perut yang sakit, yang telah kehilangan selera makan roti.

Demikian pula hukum cinta kepada Allah. Kesejatian cinta menuntut pengutamaan Kekasih di atas segalanya—termasuk diri pribadi, dan siap menanggung beban demi mengikuti kemaun-Nya dan mencari ridha-Nya. Dengan cara ini saja kebenaran cinta dapat dibuktikan dan diketahui keberadaannya di dalam hati.

5. MENDAHULUKAN APA YANG DICINTAI ALLAH ATAS APA YANG DICINTAINYA, BAIK LAHIR MAUPUN BATIN

Hal ini dilakukan dengan menjauhi hawa nafsu, meninggalkan kemalasan, senantiasa dalam ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam ibadah sunnah.

Ia meninggalkan maksiat karena cinta kepada Allah. Mengapa begitu, karena seorang pencinta pasti akan mematuhi Kekasihnya. Sedang cara terbaik dalam meninggalkan maksiat adalah cara para pencinta, dan ketaatan yang terbaik juga adalah ketaatan para pencinta.

Ada perbedaan besar antara orang yang meninggalkan maksiat karena cinta dan taat kepada Allah, dengan orang yang meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya. Sementara ketaatan bagi seorang pecinta adalah bukti cinta kepada Allah.

Seorang pujangga bersyair:

engkau mengaku cinta kepada Allah tapi maksiat kepada-Nya

tentu ini kias yang mustahil

bila benar cintamu, tentu kaupatuhilah Dia

karena sang pencinta pasti akan mematuhi Kekasihnya

Penyair lain menulis:

syarat cinta harus sejalan dengan kekasih

untuk mencintainya tanpa berselisih

mengaku cinta tetapi berselisih

alamat cinta dusta

Patut diketahui bahwa pelanggaran (maksiat) tidak selamanya identik dengan memupuskan akar cinta, namun pasti mengurangi kesempurnaanya. Hal ini terrekam dalam riwayat Nu’man, bahwa ia di hukum atas kesalahannya di hadapan Rasulullah saw. tidak lama, ia diajukan dan dihukum lagi hingga seorang laki-laki melaknatinya dan berkata: “Betapa seringnya orang ini berbuat kesalahan.” Kemudian Rasulullah saw. berkata: “Jangan kamu melaknatinya, karena ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Dari sini bisa dipahami bahwa pelanggaran/kemaksiatan bisa mengurangi kesempurnaan cinta, namun ia tidak mencabut benih cinta. dan benih cinta ini baru tercerabut bila di hatinya sudah tidak ada lagi penghormatan dan pengangungan. Bila cinta dibarengi dengan pengangungan, penghormatan, dan kesadaran tentang kekuasaan Allah, tentu jiwanya akan remuk redam karena-Nya, merunduk pada keagungan-Nya, merasa tenang dengan kemuliaan-Nya, dan merasa kerdil di hadapan keluhuran-Nya.

Tidak ada yang bisa membuat hati mekar selain cinta pada Allah yang diiringi dengan pengagungan dan penghormatan terhadap-Nya. Inilah anugerah paling utama yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, dan Ia akan memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Seorang pencinta sejati merasa selalu dikawal oleh pengawas dari Kekasihnya, yang mengawasi hati dan tindakannya. Dan tanda kebenaran cintanya adalah kesadaran dirinya terhadap pengawasan tersebut.

6. SELALU MENGINGAT ALLAH

Pencinta Ilahi adalah orang yang lisannya tidak pernah berhenti menyebut-Nya dan hatinya tak pernah kosong dari mengingat-Nya. Karena orang yang mencintai sesuatu pasti akan selalu mengingat dan mengenangnya, serta menyebut-nyebut segala hal yang terkait dengannya. Itulah sebabnya mengapa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengingat-Nya dalam segala keadaan, bahkan pada saat yang paling menakutkan sekalipun. Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung” (al-Anfal [8]: 45).

Tanda cinta sejati adalah mengingat Kekasih di kala susah maupun senang, ketika bangun maupun menjelang tidur.

Hamba yang benar-benar cinta kepada Allah akan megingat-Nya dalam kesunyian dengan hati yang bergetar dan air mata yang mengucur karena takut. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah imam mereka (karenanya), dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal” (al-Anfal [8]: 2).

Dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Ada tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah pada saat yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang bercinta dan berpisah karena Allah, pemuda yang diajak mesum oleh wanita cantik dan berkedudukan namun menjawab ‘Saya takut kepada Allah’, orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya, dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesunyian dengan menitikkan air mata.”

7. CEMBURU KARENA ALLAH

Ia marah jika larangan Allah dilangga danhak Allah diinjak-injak. Inilah cemburu dari para pencinta sejati, dan agama berada di bawah naungan rasa cemburu seperti ini. Maka orang yang paling kuat agamanya adalah orang yang paling besar cemburunya.

Dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah cemburu, dan seorang mukmin juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah jika orang mukmin melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Hamba yang mencintai Allah akan cemburu sesuai dengan kadar cinta dan pengangungan yang ada pada dirinya. Jika rasa cemburu ini tak lagi tersisa di hati, berarti cinta telah jauh pergi, sekalipun lisannya berbusa mengaku cinta. adalah dusta, bila ada yang mengaku cinta pada seseorang tapi ia tidak cemburu saat Kekasihnya itu disakiti orang lain, malah ia menyakitinya, melecehkan haknya, dan meremahkan perintahnya. Orang itu sudah tidak memiliki rasa cemburu lagi, bahkan hatinya telah beku. Lantas bagaimana mungkin hamba mengaku cinta pada Allah, sedang ia tidak cemburu ketika apa yang diharamkan Allah dilanggar.

Saat cemburu pergi dari hati, saat itu pula ia telah ditinggalkan cinta, bahkan tidak ada lagi agama yang tersisa di hatinya, meski masih ada jejak-jejaknya.

Rasa cemburu ini adalah pangkal jihad dan amar ma’ruf nahi munkar. Rasa cemburu inilah yang mendorongnya melakukan semua hal tersebut. Jika tak ada rasa cemburu di hati maka ia tidak akan pernah bisa berjihad dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan semua itu hanya bisa dilakukan bila ada rasa cemburu kepada Tuhannya. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut tehadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap oang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (al-Ma’idah [5]: 54).

8. SENANG TERHADAP SEGALA SESUATU YANG MENIMPA DIRINYA DALAM PERJALANAN MENUJU KEKASIHNYA

Kesenangan tersebut bukan karena kepentingan pribadinya, namun karena kehendak Sang Kekasih. Mengapa begitu, karena nikmat terbesar bagi seorang pencinta adalah kerelaan Kekasih, walau ia harus hancur karena-Nya.

Ini hanya bisa dicapai oleh jiwa yang tenang, apalagi jika musibah itu terjadi karena ketaatan pada Allah. Semua yang menimpanya dalam mencari ridha Allah diterimanya dengan lapang dada. Ia rela menerima apa pun demi ridha-Nya. Demikianlah sikap semua pencinta sejati, ia senang menerima berbagai hah yang tidak disukai demi menggapai keridhaan Sang Kekasih.

Seorang yang berkoar mencintai sesuatu tapi tidak suka dengan kegemaran Kekasihnya dan mencintai apa yang dibencinya sama dengan mengakui kebohongannya. Sebenarnya ia membenci Kekasihnya. Pencinta sejati adalah sebagaimana ungkapan berikut:

Demi kamu, wajahku jadi pembuangan

ludah si penghasut dan si pendengki

semua relah kulakukan agar engkau ridha

Siapa yang tidak ridha atas musibah yang menimpanya demi Kekasihnya sebaiknya ia turun dari derajat cinta dan mundur dari arena cinta, karena ia tak lagi layak bercinta.

Karena itu, ridha merupakan pintu Allah yang paling agung, sorga dunia, kehidupan para pencinta, tempat istirahat kaum ‘arifin, kenikmatan para ‘abid, dan kesenangan para perindu. Mereka merasa senang menerima segala ketentuan yang berlaku pada diri mereka. Mereka menerimanya sebagai pilihan Allah dan merasa tenang terhadap hukum-hukum agama-Nya. Itulah makna ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul. Dan orang yang tidak mencapai hal ini, tidak akan merasakan kelezatan iman.

Keridhaan sangat ditentukan oleh pemahaman hamba tentang keadilan, hikmah, rahmat dan pilihan tebaik Allah. Makin dalam pemahaman ini, makin menghunjam rasa ridhanya dalam hati.

9. MENCINTAI KALAM ALLAH

Bila ingin menakar cinta Anda pada Allah, ukurlah tingkat cinta hati Anda terhadap Kalam Allah. Rasa cinta pada Kekasih seiring dengan rasa cinta terhadap al-Qur’an; barangsiapa yang mencintai Kekasih pasti pembicaraannya menjadi sesuatu yang paling dicintai-Nya.

Tak ada yang lebih manis bagi para pencinta selain pembicaraan Sang Kekasih. Ia adalah kelezatan hati dan puncak pencariannya. Karena itu, bagi orang yang mencintai Allah, tak ada yang lebih nikmat dari mendengarkan al-Qur’an.

Dari Ibnu Mas’ud ra,; ia berkata: “Rasulullah saw. berucap kepadaku, ‘Bacakanlah al-Qur’an untukku.’ Jawabku: ‘Bagaimana mungkin saya membacakan al-Qur’an untukmu, padahal ia diturunkan padamu?’ Beliau menjawab, ‘Saya ingin mendengarnya dari orang selain aku.” Lalu saya pun membacakan surat a-Nisa’, dan begitu sampai pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap umat dan Kami mendatangkan Kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (an-Nisa’ [4]: 41), beliau berkata: “cukup, cukup.” Dan saya lihat air matanya bercucuran.

Dalam riwayat lain, Nabi berkata kepada Abu Musa “Andai engkau tahu bahwa saya menyimak bacaan al-Qur’anmu tadi malam… Engkau sungguh telah dianugerahi kemerduan suara keluarga Daud.”

10. TOBAT YANG DIBARENGI DENGAN KHAUF (CEMAS) DAN RAJA’ (HARAP)

Allah berfirman:

“(Yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pemurah, sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat” (Qaf [50]: 35).

Karena seorang pencinta takut kehilangan Kekasih dan Dambaannya, maka ia selalu dihantui oleh perasaan harap dan cemas terhadap Kekasihnya.

Allah mengabarkan tentang para hamba-Nya yang khusus yang diduga oleh kaum musyrikin sebagai orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah melalui mereka, padahal para hamba itu penuh harap dan cemas terhadap Allah. Dalam hal ini, Allah berfirman:

“Katakanlah: Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka. Siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti” (al-Isra’ [17]: 56-57).

Dalam ungkapan lain: “Allah berfirman: Orang-orang yang kalian (kaum musyikin) duga menyembah selain Aku sebenarnya adalah para hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku dengan menaati-Ku, mengharap rahmat-Ku dan takut akan siksaan-Ku. Lantas mengapa kalian menuduh mereka (para kekasih Allah) menyembah selain Aku?”

Melalui ayat ini Allah memuji ahwal (kondisi spiritual) dan maqam mereka, yaitu hubb (rasa cinta), khauf, dan raja’.

Raja’ sangat ditentukan oleh kuatnya cinta. setiap pencinta pasti dirundung oleh rasa khauf dan raja’; ia adalah orang yang paling berharap dan paling mencintai Kekasihnya. Demikian pula rasa cemasnya; ia cemas bila ia jatuh dalam pandangan-Nya, diusir, dijauhi dan ditinggalkan. Ia sangat cemas, sedang rasa harapnya sudah menyatu dengan cinta. karena ia sudah mengharap-Nya sebelum ia berjumpa dan sampai kepada Dia.

Setelah berjumpa dan sampai kepada-Nya, harapannya kian besar. Karena dengan demikian ia telah mencapai kehidupan rohani, da hatinya bisa meeguk nikmatnya sentuhan kelembutan Kekasih-Nya, kebaikan-Nya, perhatian dan pandangan-Nya terhadap dirinya dengan penuh ridha, kelayakannya untuk mencintai-Nya dan hal lainnya. Dan tiada kehidupan, kenikmatan dan kesuksesan bagi pencinta selain dengan sampai kepada-Nya. Karena itu, ia termasuk orang yang paling besar dan paling sempurna harapannya.

Renungkanlah semua ini, niscaya Anda akan mendapatkan berbagai macam rahasia ibadah dan cinta. Setiap cinta selalu diiringi dengan rasa harap dan cemas. Makin kuat hunjaman rasa cinta, makin besar pula rasa harap dan cemasnya.

Anda dituntut untuk memelihara hukum-hukum dan larangan-larangan Allah, dan tidaklah Anda mampu memenuhi tuntutan tersebut sebagaimana orang yang menggapainya melalui rasa cemas, harap dan cinta kepada-Nya. Tiga hal inilah—yaitu cinta, cemas dan harap—yang mendorong pemanfaatan waktu dengan hal-hal yang paling utama dan paling bermanfaat bagi seseorang. Ia merupakan asas dari suluk (perjalanan) menuju Allah.

Ketiga hal ini merupakan roda penggerak ‘ubudiyah dan poros amal perbuatan. Bila ketiga hal itu tidak ada dalam hati, maka hati tersebut rusak dan tak bisa diperbaiki untuk selamanya. Bila hal tersebut mengendor, dengan sendirinya iman pun menjadi lemah sesuai dengan kadar pengendorannya.

11. MENYESAL, JIKA LUPA MENGINGAT ALLAH

Sesuatu yang paling disesalinya adalah bila waktunya terbuang dengan sia-sia. Bila ia lupa mengingat Allah, penyesalan dan keperihan hatinya melebihi kegundahan hati seorang yang kehilangan harta. Maka segera dibayarnya kelalaian itu, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw.

Dari A’isyah ra; ia berkata: “Nabi saw. melakukan ibadah malam dengan teratur. Ketika malamnya tertidur atau sakit, siangnya beliau shalat duabelas raka’at.”

Hal ini beliau lakukan karena jika telah menjadi kebiasaan, maka kemungkinan luput itu bisa ditutupi. Tapi bila malas membayarnya di lain waktu, maka penyia-nyiaan waktu akan mudah terjadi.

12. LEMAH LEMBUT KEPADA HAMBA ALLAH DAN TEGAS KEPADA MUSUH-NYA

Hal ini sesuai dengan firman Allah:

“Keras terhadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang sesama mereka” (al-Fath [48]: 29).

Maka seseorang yang mencintai Allah tidak akan gentar terhadap celaan dan kemarahan orang-orang yang suka mencela, ketika ia berjalan menuju Dia.

Itulah serangkaian tanda cinta kepada Allah. Bila seseorang berhasil mencapai semuanya, maka sempurnalah cintanya dan akan menuai hasilnya di akhirat.

“Jangan Anda menunda-nunda dengan tanpa melakukan

persiapan untuk kematian. Umur kita terlalu singkat.

Anggaplah tiap tarikan nafas sebagai udara terakhir yang

dihirup, lalu kematian menjemput anda. Kematian manusia

akan berada dalam keadaan di mana ia bisa melakukannya

ketika hidup, dan kelak dibangkitkan di akhirat

dalam situasi itu pula.”

19 Perkara Perusak Amal 7 Desember 2009

Posted by abuumar44 in Nasehat.
Tags:
add a comment

1. Kufur, Syirik, Murtad, dan Nifaq.

Wahai orang Muslim, wahai hamba Allah! Ketahuilah, siapa yang mati dalam keadaan kafir atau musyrik atau murtad, maka segala amal yang baik tidak ada manfaatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti shadaqah, silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga dan lain-lainnya. Sebab di antara syarat taqarrub adalah mengetahui siapa yang didekati. Sementara itu orang kafir tidak begitu. Maka secara spontan amalnya menjadi rusak dan sia-sia.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” [Al-Baqarah: 217].

“Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amalannya dan ia pada akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-Maidah: 5].

“Dan sesunggunya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’.” [Az-Zumar: 65].

Allah juga berfirman, mengabarkan tentang keadaan semua rasul: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya leyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88].

Dan juga sabda Rasulullah saw: “Apabila orang-orang mengumpulan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian untuk satu hari dan tiada keraguan di dalamnya, maka ada penyeru yang berseru: ‘Barangsiapa telah menyekutukan seseorang dalam suatu amalan yang mestinya dikerjakan karena Allah, lalu dia minta pahala di sisi-Nya, maka sesungguhnya Allah adalah yang paling tidak membutuhkan untuk dipersekutukan’.” [HR. At-Tirmidzi 3154, Ibnu Majah 4203, Ahmad 4/215, Ibnu Hibban 7301, hasan].

2. Riya’.

Celaan terhadap riya’ telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Firman Allah: “… seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu sperti batu yang licin dan diatasnya ada tanah, kemudian batu itu mejadilah bersih (tidak bertanah). Mereka itu tidak menguasai sesuatu sesuatu apapun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” [ Al-Baqarah: 264].

Rasullullah saw bersabda: “Sesungguhnya yang aku paling takutkan atas kamu sekalian ialah syirik kecil, yaitu riya’. Allah berfirman pada hari kiamat, tatkala memberikan balasan terhadap amal-amal manusia, ‘Pergilah kepada orang-orang yang dulu kamu berbuat riya’ di dunia, lalu lihatlah apakah kamu mendapatkan balasan bagi mereka?” [HR. Ahmad 5/428, 429, shahih].

Maka dari itu jauhilah riya’, karena ia merupakan bencana amat jahat, yang bisa menggugurkan amal dan menjadikannya sia-sia. Ketahuilah, bahwa orang-orang yang riya’ adalah pertama kali menjadi santapan neraka, karena mereka telah menikmati hasil perbuatannya di dunia, sehingga tidak ada yang menyisa di akhirat.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dari nifaq dan amal kami yang riya’ teguhkanlah kami pada jalan-Mu yang lurus, agar datang keyakinan kepada kami.

3. Menyebut-Nyebut Shadaqah dan Menyakiti Orang Yang Diberi.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman jangalah kamu menghilangkan (pahala) shadaqahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al-Baqarah: 264].

Ketahuilah wahai hamba Allah! Jika engkau menshadaqahkan harta karena mengharap balasa dari orang yang engkau beri, maka engkau tidak adakn mendapatkan keridhaan Allah. Begitu pula jika engkau menshadaqahkannya karena terpaksa dan menyebut-nyebut pemberianmu kepada orang lain.

Rasulullah saw bersabda: “Tiga orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan takdir.” [HR. Ibnu Abi Ashim 323, Ath-Thabrany 7547, hasan].

Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Kebaikan yang paling baik, pada setiap waktu adalah perbuatan yang tidak dilanjuti dengan menyebut-nyebutnya.”

Allah berfirman: “Perkataan baik dan pemberian maaf lebih baik dari shadaqah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” [Al-Baqarah: 263].

4. Mendustakan Takdir.

Ketahuilah wahai orang Mukmin, iman seorang hamba tidak dianggap sah kecuali dia beriman kepada takdir Allah, baik maupun buruk. Dia juga harus tahu bahwa bencana yang menimpanya bukan unutk menyalahkannya, dan apa yang membuatnya salah bukan untuk menimpakan bencana kepadanya. Semua ketentuan sudah ditetapkan dan ditulis di Mushhaf yang hanya dikethaui Allah semata, sebelum suatu peristiwa benar-benar terjadi dan sebelum Dia menciptakan alam.

Rasulullah saw bersabda: “Tiga orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan takdir.”

Dan sabda beliau yang lain: “Andaikata Allah mengadzab semua penhuni langit dan bumi-Nya, maka Dia tidak zhalim terhadap mereka. Dan, andaikata Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya itu lebih baik bagi mereka dari amal-amal mereka. Andaikata engkau membelanjakan emas seperti gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerima amalmu sehingga engkau beriman kepada takdir, dan engkau tahu bahwa bencana yang menimpamu, dan apa yang membuatmu salah bukan untuk menimpakan bencana kepadamu. Andaikata engkau mati tidak seperti ini, maka engkau akan masuk neraka.” [HR. Abu Daud 4699, Ibnu Majah 77, Ahmad 5/183, 185, 189, shahih].

5. Meninggalkan Shalat Ashar.

Allah memperingatkan manusia agar tidak meninggalkan shalatul-wustha (shalat ashar) karena dilalaikan harta, keluarga atau keduniaan. Allah mengkhususkan bagi pelakunya dengan ancaman keras, khususnya shalat ashar. Firman-Nya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai dari shalatnya.” [Al-Ma’un: 4-5].

Rasulullah saw bersabda: “Orang tidak mengerjakan shalat ashar, seakan-akan dia ditinggalkan sendirian oleh keluarga dan hartanya.” [HR. Al-Bukhari 2/30, Muslim 626]

Dari Abu Al-Malih, atau Amir bin Usamah bin Umair Al-Hadzaly, dia berkata, “Kami bersama Buraidah dalam suatu perperangan pada suatu hari yang mendung. Lalu ia berkata, ‘Segeralah melaksanakan shalat ashar, karena Nabi saw pernah berkata: “Barangsiapa meninggalkan shalat ashar, maka amalnya telah lenyap.” [HR. Al-Bukhari 2/31, 66].

6. Bersumpah Bahwa Allah Tidak Mengampuni Seseorang

Dari Jundab ra sesungguhnya Rasulullah saw mengisahkan tentang seorang laki-laki yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni Fulan. Padahal Allah telah berfirman, ‘Siapa yang bersumpah kepada-Ku, bahwa aku tidak mengampuni Fulan, maka aku mengampuni Fulan itu dan menyia-nyiakan amalnya (orang yang bersumpah).” [HR. Muslim 16/174].

Ketahuilah, bahwa memutuskan manusia dari rahmat Allah merupakan sebab bertambahnya kedurhakaan orang yang durhaka. Karena dia merasa yakin, pintu rahmat Ilahi sudah ditutup di hadapannya, sehingga dia semakin menyimpang jauh dan durhaka, hanya karena dia hendak memuaskan nafsunya. Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang tidak diberikan kepada orang lain.

Bukanlah sudah selayaknya jika Allah menghapus pahala amal orang yang menutup pintu kebaikan dan membuka pintu keburukan, sebagai balasan yang setimpal baginya?

7. Mempersulit Rasulullah, dengan Perkataan maupun Perbuatan.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lainm supaya tidak menghapus (pahala) amalanmu, sedang kamu tidak menyadarinya.” [Al-Hujurat: 2].

Dari Anas bin Malik ra, tatkala ayat ini turun maka Tsabit bin Qais di rumahnya, seraya berkata, “Pahala amalku telah terhapus, dan aku termasuk penghuni neraka.” Dia juga menghidari Nabi saw. Lalu beliau bertanya kepada Sa’d bin Mu’adz, “Wahai Abu Amr, mengapa Tsabit mengeluh?”

Sa’d menjawab, “Dia sedang menyendiri dan saya tidak tahu kalau dia sedang mengeluh.”

Lalu Sa’d mendatangi Tsabit dan mengabarkan apa yang dikatakan Rasulullah. Maka Tsabit berkata, “Ayat ini telah turun, sedang engkau sekalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling keras suaranya di hadapan Rasulullah. Berarti aku termasuk penghuni neraka.”

Sa’d menyampaikan hal ini kepada beliau, lalu beliau berkata, “Bahwa dia termauk penghuni surga.” [HR. Al-Bukhari 6/260, Muslim 2/133-134].

Dengan hadits ini jelaslah bahwa mengeraskan suara yang dapat menghapus pahala amal adalah suara yang menggangu Rasulullah, menentang perintah beliau, tidak taat dan tidak mengikuti beliau, baik perkataan maupun perbuatan.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” [Muhammad: 33].

8. Melakukan Bid’ah Dalam Agama.

Melakukan bid’ah akan mengugurkan amal dan menghapus pahala. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menciptakan sesuatu yang baru dalam agama kami ini yang tidak termasuk bagian darinya, maka ia tertolak.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak termasuk agama kami, maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari 5/301, Muslim 12/16].

9. Melanggar Hal-Hal Yang Diharamkan Allah Secara Sembunyi-Sembunyi.

Dari Tsauban ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Benar-benar akan kuberitahukan tentang orang-orang dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa beberapa kebaikan seperti gunung Tihamah yang berwarna putih, lalu Allah menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai debu yang berhamburan”. Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami dan jelaskan kepada kami, agar kami tidak termasuk diantara mereka, sedang kami tidak mengetahuiny”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka itu juga saudara dan dari jenismu. Mereka shalat malam seperti yang kamu kerjakan. Hanya saja mereka adalah orang-orang yang apabila berada sendirian dengan hal-hal yang diharamkan Allah maka, mereka melanggarnya.” [HR. Ibnu Majah 4245, shahih].

10. Merasa Gembira Jika Ada Orang Mukmin Terbunuh.

Darah orang Muslim itu dilindungi. Maka seseorang tidak boleh menumpahkan darahnya menurut hak Islam.

Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa membunuh seorang Mukmin lalu ia merasa senag terhadap pembunuhannya itu, maka Allah tidak akan menerima ibadah yang wajib dan yang sunat darinya.” [HR. Abu Daud 4270, shahih].

11. Menetap Bersama Orang-Orang Musyrik Di Wilayah Perperangan.

Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: “Aku berkata, ‘wahai Nabi Allah, aku tidak pernah mendatangimu sehingga aku menjalin persahabatan lebih banyak dari jumlah jari-jari tangan? Apakah sekarang aku tidak boleh mendatangimu dan mendatangi agamamu? Sesungguhnya aku dulu adalah orang yang tidak pernah melalaikan sesuatu pun kecuali apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepadaku, dan sesungguhnya aku ingin bertanya atas ridha Allah, dengan apa Rabb-mu mengutusmu kepada kami?”

Beliau menjawab, “Dengan Islam.”

“Apakah tanda-tanda Islam itu?”, Dia bertanya.

Beliau menjawab, “Hendaklah engkau mengucapkan: ‘Aku berserah diri kepada Allah’, hendaklah engkau bergantung kepada-Nya, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Setiap orang Muslim atas orang Muslim lainnya adalah haram (menyakiti), keduanya adalah saudara dan saling menolong. Allah tidak akan menerima suatu amalan dari orang Muslim setelah dia masuk Islam, sehingga dia meninggalkan orang-orang kafir untuk bergabung dengan orang-orang Muslim.” [HR. An-Nasa’i 5/82-83, Ibnu Majah 2536, Ahmad 5/4-5, hasan].

12. Mendatangi Dukun dan Peramal.

Beliau saw mengancam orang-orang yang mendatangi dukun dan sejenisnya, lalu meminta sesuatu kepadanya, bahwa shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” [HR. Muslim 14/227].

Ancaman ini diperuntukkan bagi orang yang mendatangi dukun dan menanyakan sesuatu kepadanya. Sedangkan orang yang membenarkannya, maka dia dianggap sebagai orang yang mengingkari apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.” [HR. Muslim 135, Abu Daud 3904, Ahmad 2/408-476].

13. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.

Allah telah memerintahkan agar berbuat baik kepada ibu bapak dan berbakti kepada keduanya. Dia memperingatkan, mendurhakai keduanya dan mengingkari kelebihan keduanya dalam pendidikan merupakan dosa besar dan melenyapkan pahala amal. Rasulullah saw bersabda: “Tiga orang, Allah tidak menerima ibadah yang wajib dan yang sunat dari mereka, yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, menyebut-nyebut shadaqah dan mendustakan takdir.”

14. Meminum Khamr.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa meminum khamr, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat, maka Allah mengampuninya. Jika dia mengulanginya lagi, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Dan, jika mengulanginya keempat kalinya, maka shalatnya tidak diterima (lagi) selama empat puluh pagi (hari). Jika dia bertaubat maka Allah tidak mengampuninya dan Dia mengguyurnya dengan air sungai al-khabal.” Ada yang bertanya, “Wahai Abu Abdurrahman (Nabi), apakah sungai al-khabal itu?” Beliau menjawab, “Air sungai dari nanah para penghuni neraka.” [HR. At-Tirmidzi 1862, shahih].

15. Perkataan Dusta dan Palsu.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pelaksaannya, maka Allah tidak mempunyai kebutuhan untuk meninggalkan makanan dan minumannya.” [HR. Al-Bukhari 4/16, 10/473].

Di dalam hadits ini terkandung dalil perkataan palsu dan pengamalannya dapat meleyapkan pahala puasa.

16. Memelihara Anjing, Kecuali Anjing Pelacak, Penunggu Tanaman atau Berburu.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memelihara seekor anjing, maka pahala amalnya dikurangi setiap hari satu qirath (dalam riwayat lain: dua qirath) kecuali anjang untuk menjaga tanaman atau pun anjing pelacak.” [HR. Al-Bukhari 6/360, Muslim 10, 240].

17. Wanita Yang Nusyuz, Hingga Kembali Menaati Suaminya.

Rasulullah saw bersabda: “Dua orang yang shalatnya tidak melebihi kepalanya, yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya hingga kembali lagi kepadanya dan wanita yang mendurhakai suaminya hingga kembali lagi.”

18. Orang Yang Menjadi Imam Suatu Kaum dan Mereka Benci Kepadanya.

Rasulullah saw bersabda: “Tiga orang yang shalatnya tidak melebihi telinga mereka, yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya sehingga dia kembali yaitu hamba sahaya yang lari dari tuannya sehingga dia kembali, wanita yang semalaman suaminya dalam keadaan marah kepadanya, dan imam suatu kaum, sedang mereka benci kepadanya.” [HR. At-Tirmidzi 360, shahih].

Ada kisah yang dinukil dari Manshur, dia berkata: “Kami pernah bertanya tentang masalah imam. Maka ada yang menjawab, “Yang dimaksud hadits ini adalah imam yang zhalim. Sedangkan imam yang menegakkan Sunnah, maka dosanya kembali kepada orang-orang yang membencinya.”

19. Orang Muslim Mejauhi Saudaranya Sesama Muslim Tanpa Alasan Yang Dibenarkan Syariat.

Dari Abu Hurairah ra, seungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah akan diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai. Lihatlah dua orang ini hingga keduanya berdamai.” [HR. Muslim 16/122, 123].

(Syaikh Salim bin I’ed Al-Hilaly)

6 Permasalahan Hidup 7 Desember 2009

Posted by abuumar44 in Hikmah.
add a comment

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia bertanya kepada mereka,

1. Pertanyaan pertama:

“Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”.

Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi menurut Imam Ghozali yang paling dekat dengan manusia adalah “mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ” (QS. Ali Imran ayat 185)

2. Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.

“Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.

Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari,dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan harihari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

3. Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang etiga.

“Apa yang paling besar di dunia ini?” .

Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafsu”

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Al A’Raf 179).

Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

4. Pertanyaan keempat adalah:

“Apa yang paling berat di dunia ini?”.

Ada yang menjawab dengan jawaban, baja, besi, dan gajah. “Semua jawaban hampir benar,” kata Imam Ghozali, “tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 72.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

5. Pertanyaan yang kelima adalah:

“Apa yang paling ringan di dunia ini?”.

Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan sholat. Gara -gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara -gara meeting kita tinggalkan sholat.

6. Lantas pertanyaan ke enam adalah:

“Apakah yang paling tajam di dunia ini?”.

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Kutitipkan Surat Ini Untukmu 7 Desember 2009

Posted by abuumar44 in Berbakti Kepada Orang Tua, Nasehat.
Tags: ,
add a comment

Assalamu’alaikum,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkanIbu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikankepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, keluarga dan parasahabatnya. Amin…
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelahberpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena,sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kalimenulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dansetiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadilaki- laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkaupantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas inilalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatidan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dansemua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasagembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dariperubahan fisik dan emosi…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri,makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidakmengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersamaberjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku!
Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketikafajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan matakubarang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasatakut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihatkematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkaukeluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu,air mata kebahagiaan.

Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semuasakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah denganbertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman,aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu denganhatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripatihidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demikebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu…itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulandan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmuyang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti,dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akanselalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimuhari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmuyang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan kekanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu.

Saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir,entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangistelah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkanpasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisahdenganku. Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat.Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dankesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi olehkegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu,sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolamyang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidakmengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu.

Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapipenantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanyauntuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu akumanyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali teleponberdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suarakendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akantetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancurberkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihandari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diridan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagihkepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagaisahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agarIbu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.Dan Ibu memohonkepadamu, Nak Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendakmemandang wajahmu!! Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu,salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgahke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempatsampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksaengkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalupergi. Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku,karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit…

Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu…
Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yangtidak pernah berhenti. Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja olehseseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!?

Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak!
Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’alatelah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikanpula? !” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudahbegitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia denganhidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak,engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil darikeletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yangtelah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?
Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu? Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagaibudak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu .Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukkuwahai anakku! Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku dibawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikitkasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini?Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidakmenginginkan yang lain. Wahai anakku! Hatiku teriris, air matakumengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang seringmengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yanglemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini,ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaiankedukaan! ? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkanair matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka dihatinya ..hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belatidurhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telahberhasil pula memutuskan tali silaturrahim? !

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilahjembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis,pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sanadengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits:

“Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, makasia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkautelah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dansurga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalatberjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah. Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yangterlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitubahwa Nabi yang mulia shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu `anhu berkata: Aku bertanya kepadaRasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apayang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepadakedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliaumenjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya akubertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun `alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untukmemerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkaumendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dananak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawapulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalamusahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubukreotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emasyang besar.

Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelahgubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencaripahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa didekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapatmenghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoanAllah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwajangan- jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu `alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Merugilah seseorang, merugilah seseorang,merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketikatua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)

Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidakadukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telahmembumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidakada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantunghatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langitsedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmumerana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaanhidupku. Bangunlah Nak!
Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkauakan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akanmemetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkautulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itupula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!!
Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlahkesedihanny a, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yangtelah lapuk. Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu!Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu
:::::::::::: ::::::::: ::::::::::::::::: ::::::::: :::::::::::::
Artikel Ini Disalin dari Buku Kutitipkan Surat Ini Untukmu
karya Al-Fadhil Al-Ustadz Armen Halim Naro, Lc.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.